Kamis, 27 September 2012

PILKADA DKI 2012: Rekapitulasi suara KPUD, Jokowi-Ahok 53,21%, Foke-Nara 46,79%

JAKARTA: Pasangan cagub-cawagub Jokowi-AHok meraih suara 53,21%mengungguli pasangan Foke-Nara dengan 46,79% berdasarkan rekapitulasi penghitungan KPUD hasil Pilkada Gubernur/Wakil Gubernur DKi Jakarta.

Ketua KPUD Kota Jakarta Timur Chairil Anwar mengatakan Jokowi-AHok mengantongi 695.220 suara atau 53,21%, sedangkan Foke-Nara mendapatkan 611.366 suara atau 46,79%. Total suara yang masuk adalah 1.328.586 dengan rincian suara sah sebanyak 1.306.586 dan suara tidak sah 22.358.

Berdasarkan pemantauan jalannya rekapitulasi tersebut, ada beberapa pernyataan keberatan baik dari saksi pasangan nomor urut 1 maupun nomor urut 3. Meski demikian, secara umum acara tersebut berjalan kondusif.

Keesokan harinya, kata Sumarno, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Sosialisasi, Pemungutan dan Penghitungan Suara Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta,  KPU DKI akan mengumumkan penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih periode 2012-2017.
“KPU memberikan waktu untuk mengajukan gugatan terhadap hasil penghitungan suara Pemilukada DKI putaran kedua. Namun, kalau tidak terjadi gugatan pada hasil pemilukada putaran kedua ini, maka pasangan calon terpilih akan dilantik 7  Oktober 2012 di hadapan DPRD DKI Jakarta,” ujarnya.
Sumarno menambahkan, enam lokasi pelaksanaan penghitungan suara tingkat kabupaten/kotamadya, yaitu di Jakarta Selatan, penghitungan suara dilakukan mulai pukul 09.30 WIB.
Penghitungan suara untuk wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu dilaksakanan di Pulau Bidadari, pukul 10.00 WIB. Penghitungan suara di wilayah Jakarta Utara dilaksanakan mul;ai pukul 12.00 WIB.

Di wilayah Jakarta Pusat, penghitungan suara dilaksanakan pukul 10.00 WIB. Di wilayah Jakarta Barat, penghitungan suara pukul 08.00 WIB. Untuk wilayah Jakarta Timur, penghitungan suara dilaksanakan pukul 09.00 WIB.(ANTARA/api)

Rabu, 26 September 2012

ALBUM FOTO GANG ARAB











Di Jakarta, Jokowi Tinggal Di Rumah ‘Wong Solo’

Bentuknya Joglo, Dijaga Lima Polisi



 




RMOL.Rumah bergaya Jawa itu berada di tengah-tengah pemukiman padat penduduk di Jalan Batu Arab I, Kelurahan† Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Rumah yang memiliki pekarang luas ini ramai dikunjung orang yang mengenakan kemeja kotak-kotak.
Kediaman ini diberi nama “Rumah Saya”. Menempati tanah seluas lima ribu meter persegi, ru­mah yang bernomor 3C ini di­keliling tembok setinggi dua me­ter. Gerbang masuk yang me­miliki lebar tiga selalu terbuka. Orang bebas keluar masuk.
Di samping gerbang terdapat papan nama berwarna kuning. Papan itu dipasang dibesi pagar. “Rumah Saya, Joglo manten khas Jawa” tulisan di papan nama yang disertai aksara Jawa ini.
Masuk ke dalam gerbang ter­hampar halaman yang cukup luas. Halaman itu ditutupi rumput hijau yang tampak terawat. Po­hon-pohon tumbuh subur di sini. Di halaman ini juga terdapat tempat parkir yang muat me­nampung 20 mobil.
Di tengah pekarang terdapat la­pangan tenis. Namun sarana olah­raga ini tak bisa dipakai. Sebab di atasnya berdiri dua bangunan ber­atap joglo. Bangunan ini ter­buat dari kayu jati. Konon usia kayunya sudah puluhan tahun.
Di dalam rumah joglo ini di­se­diakan meja oval yang dilengkapi kursi. Semuanya terbuat dari kayu jati. Untuk penerangan di­pasang lampu gantung model la­was. Berada di tempat ini me­ngingatkan kita pada rumah Jawa tempo dulu.
Saat Rakyat Merdeka ber­kun­jung, bangunan dipenuhi penyan­dang cacat. Mereka duduk di kur­si dan kompak mengenakan ke­meja kotak-kotak.
Di samping kanan rumah joglo ini terdapat halaman yang cukup luas. Halaman bisa digunakan acara luar ruang (out door) se­perti pesta kebun dan sema­cam­nya. Di halaman ini berdiri dua gazebo yang juga terbuat dari kayu. Ga­zebo ini bisa dipakai untuk tem­pat berkumpul seka­ligus bersantai.
Di bagian pojok depan hala­man terdapat bangunan yang juga beratap model joglo. Dindingnya sudah dari tembok. Bangunan satu lantai seluas 400 meter per­segi ini dicat warna putih.
Bangunan ini berfungsi seba­gai tempat tinggal. Di jalan me­nu­ju rumah ditempatkan dua pa­tung Gu­polo. Dalam mitos Jawa, makh­luk yang memegang gada ini merupakan simbol penjaga rumah.
Teras rumah dipenuhi meja dan kursi yang terbuat dari rotan. Se­buah gong menjadi menghias te­ras ini.  Puluhan orang yang me­nge­nakan baju kota-kotak terlihat ber­bincang-bincang santai di di sini.
“Selama di Jakarta, Jokowi tinggal di rumah ini, “ kata Zaenal penjaga “Rumah Saya”. Menurut dia, Jokowi pernah ditawari 22 tempat yang akan menjadi tempat menginap selama di Jakarta. Tapi dia memilih tinggal di sini.
Masih menurut Zaenal, Jokowi me­milih rumah ini karena ber­nuansa Jawa dan Solo, daerah asal­nya. Selain itu, rumah ini tak jauh dari warung tegal. Selama ini walikota Solo itu tak sungkan makan di tempat makan masya­rakat golongan bawah. “Kalau tinggal di pemukiman elit sangat susah mencari makanan seperti itu,” katanya.
Zaenal mengatakan, pemilik ‘Rumah Saya’ adalah Rio Sar­wo­no. Dia pengusaha rumah makan yang juga identik dengan kota Solo. “Dia salah satu pemilik ru­mah makan Wong Solo,” katanya.
Jokowi tinggal di sini sejak dua bulan lalu. “Tapi tidak terus me­nerus, hanya seminggu sekali da­tang ke kesini. Biasanya datang Jumat sore dan pulang ke Solo Minggu malam,” kata pria se­tengah baya ini.
Jokowi menggunakan rumah ini untuk tempat istirahat di malam hari. Siang hari, ia meng­habiskan waktu mengunjung warga Jakarta. “Setiap hari ada 48 titik yang harus didatangi,” kata Zaenal.
Lantaran agendanya yang padat, Jokowi baru menginjakkan kaki di sini pada pukul 1 dinihari. Pukul 6 pagi, dia sudah keluar untuk kembali bertemu dengan warga Jakarta.
Selama menginap di sini, Joko­wi hanya ditemani lima orang anggota tim suksesnya. Istri istri dan anaknya tetap tinggal di Solo. Tiga menjelang hari pencoblosan, keluarga diboyong ke sini.
Mengenai masalah penga­ma­nan, lanjut pria yang mengenakan kemeja warna coklat, me­nga­ta­kan rumah dijaga 10 orang. Se­mua­nya warga sekitar.
Sebenarnya, kata Zaenal,  ada ta­waran dari PDIP dan Partai Gerindra untuk membantu pe­ngamanan di tempat tinggal Joko­wi selama di Jakarta. Tapi Jokowi yang menolak.
Namun sejak lolos ke putaran dua pilgub, kepolisian turun ta­ngan ikut menjaga tempat ini. Setiap hari, ada lima polisi yang berjaga di sini.
Menurut Zaenal, sehari se­be­lum pencoblosan rumah ini sa­ngat ramai dikunjungi tim peme­nangan, relawan dan pendukung pasangan Jokowi-Ahok. Bahkan, ungkap Zaenal,  salah satu men­teri terlihat juga datang ke sini. “Tapi beliau (menteri) hanya da­tang sebentar, kemudian pulang lagi,” katanya.
Jadi Gubernur DKI, Pilih Tinggal Di Rumah Dinas
Setelah jadi gubernur DKI, Jokowi akan tinggal di rumah dinas. Ini alasannya. “Rumah dinas itu rumahnya masyarakat,” katanya.
Ia tak tertarik membeli rumah di Jakarta. “Di sini ngapain beli rumah? Kan ada rumah dinas toh, emang nggak boleh ditempati? Masak beli rumah? Mahal. Saya kan orang kampung,” katanya.
Menurut Jokowi, tinggal di rumah dinas gubernur akan mem­buatnya merasa dekat de­ngan rak­yat. Alasannya, semua isi dan fa­silitas rumah dinas itu di­biayai uang rakyat yang dikum­pulkan dari pajak. Dengan tinggal di rumah ini, akan mengi­ngat­kannya untuk selalu mengabdi untuk rakyat.
Jokowi mengaku tak akan memboyong keluarganya ke ru­mah dinas. Ia hanya tinggal di­damping istri. “Anak saya sudah gede-gede. Pindah ke sini paling saya sama istri. Anak-anak saya sekolah di sana (Solo). Sudah kerja di sana,” kata politisi PDIP ini.
Pasangan Jokowi dan Iriana memiliki tiga anak bernama Gib­ran Rakabumi Raka, Kahiyang Ayu, dan Kaesang Pangerap.
Setelah resmi menjabat guber­nur, Jokowi akan mengulangi kebiasaannya: tak akan me­ngam­bil gaji dan tunjangan. Ia akan menghibahkannya untuk kegi­atan sosial. “Selama masih ada yang miskin, membutuhkan ya biar dipakai yang mem­bu­tuh­kan,” katanya.
Gaji pokok gubernur sesuai Ke­putusan Presiden Nomor 8 Tahun 2001 berjumlah Rp 3 juta per bu­lan. Selain gaji pokok, gaji gu­ber­nur ditambah tunjangan kepala daerah sebesar Rp 5,4 juta. Soal tun­jangan tertuang dalam Kepu­tu­san Presiden Nomor 59 tahun 2003.
Jadi, gaji bulanan yang dibawa pulang gubernur DKI sebesar Rp 8,4 juta per bulan. Jika dikalikan selama 12 bulan, gaji yang dit­e­rima gubernur sebesar Rp 100,8 juta. Jika menjabat 5 tahun gaji yang akan gubernur DKI sebesar Rp 504 juta.
Tapi masih ada berbagai pe­nam­bahan. Gubernur berhak men­dapatkan insentif sebesar 10 kali gaji pokok dan tunjangan jika penerimaan pajak suatu provinsi atau daerah di atas Rp 7,5 triliun. Hal tersebut diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No­mor 69 Tahun 2010.
Saat ini, penerimaan pajak DKI Jakarta mencapai Rp 14,8 triliun. Artinya, gubernur DKI berhak mendapatkan tambahan insentif sebanyak 10 kali gaji pokok dan tunjangan, yakni sebesar Rp 84 juta per tahun.
 Jika dikalikan selama lima ta­hun, uang yang mengalir ke ko­cek gubernur dari insentif pe­ne­ri­maan pajak sebanyak Rp 420 juta. Dengan demikian, penda­p­a­tan gubernur DKI setahun adalah Rp 184,8 juta. Bila menjabat selama lima tahun jumlahnya mencapai Rp 924 juta.
Selama menjabat wali kota Solo, Jokowi mengaku tak pernah mengambil gaji. Gaji wali kota sebesar Rp 7.250.500 ditambah tunjangan Rp 22 juta.
Uang gaji dan tunjangan itu lalu ditukar dengan uang receh Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu. Uang ini dibagikan kepada warga yang benar-benar miskin.
Dari mana Jokowi menafkahi keluarga? Jokowi mengaku me­miliki bisnis pembuatan mebel ru­mah dan kain. Usaha ini dirintis sebelum jadi wali kota Solo. Peng­hasilannya dirasa cukup un­tuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarga.
Berdasarkan Laporan Harta Ke­kayaan Pejabat Negara (LHKPN) yang diserahkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), harta Jokowi sebesar Rp 27,2 miliar. Jumlah sudah dicek tim KPK saat mendatangi rumah Jo­kowi di Solo pada Juni lalu.
Sering Disewa Artis Untuk Pesta Dan Syuting
“Rumah Saya” tidak hanya ter­kenal sejak digunakan men­jadi tempat menginap Jokowi. Sebelumnya, rumah ini di­gu­na­kan artis untuk menggelar upacara pernikahannya. Seperti yang dilakukan Andara Early saat menikah dengan DJ Wingki.
Tak hanya itu, rumah unik ini juga kerap menjadi lokasi syu­ting video klip. Band yang per­nah syuting video klip di sini adalah The Cangcuters dan The Titans.
Rio Sarwono, pemilik rumah ini tak tinggal di sini. Sehari-hari ini rumah ini kosong. Ha­nya ramai ketika disewa untuk pernikahan dan pesta.
 “Bapak (Rio) tinggal di rumah lainnya yang letakknya tak jauh dari rumah ini,” kata Zaenal, penjaga “Rumah Saya”.
Masyarakat umum, kata dia, juga bisa memakai meng­gu­na­kan rumah ini untuk acara per­nikahan atau pertemuan yang me­nginginkan nuansa tra­disional. Harga sewanya sebe­sar Rp 20 juta untuk rentang waktu 24 jam pemakaian. “Tapi bila kenal dekat dengan pak Rio harga bisa nego, malah bisa gratis,” katanya.
Zaenal mengungkapkan, r­u­mah ini sebetulnya milik ka­kek artis Ayu Azhari. Pada awal tahun 1990 dibeli Rio Sarwono. Pemilik baru lalu membangun rumah joglo di halaman depan. “Dulu tempat ini sering dija­di­kan majelis taklim,” katanya.
Di inforumahsaya.­blogspot.­com disebutkan tempat ini bisa disewa dengan hitungan per 24 jam atau sehari penuh. Harga sewa seluruh area Rp 18 juta. Jika hanya menyewa rumah rtama Rp 7,5 juta.
Harga sewa rumah joglo di­tambah satu kamar Rp 5,5 juta. Sewa halaman samping plus satu kamar Rp 6,5 juta. Harga sewa halaman depan plus satu kamar Rp 5,5 juta. Jika hanya menyewa kamar dikenai tarif Rp 500 ribu.
Sibuk Pilgub, Belum Kesampaian Nginap Di Rumah Bedeng
Jokowi ingin merasakan nginap di rumah warga biasa. Ru­mah yang hendak dida­ta­nginya adalah milik Bambang, warga Kampung Dalam RT 06 RW 01, Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.
Bangunannya semi per­ma­nen. Lebih mirip bedeng. Le­tak­nya di bantaran kali Ciliwung. Saat musim hujan, air kali yang membelah Jakarta ini kerap menggenangi rumah ini.
Selain menginap, Jokowi juga akan mandi di MCK (Man­di Cuci Kakus) yang kondisinya jauh dari layak. Tidur di tikar ber­teman tikus dan kecoak.
Bambang dan beberapa war­ga di sini telah menyiapkan se­buah kamar berukuran 3x4 me­ter berlantai tikar dan beratap seng. Rencananya, tempat ini akan disediakan untuk Jokowi sebagai bukti dia mampu hidup merakyat.
Namun keinginan itu belum kesampaian hingga Jokowi me­menangkan pilgub DKI putaran dua versi hasil perhitungan ce­pat  (quick count). “Pak Jokowi jadwalnya padat,” kata Koor­dinator Posko Perjuangan Rak­yat, Mustar.
Walaupun begitu, warga tak ke­cewa Jokowi tak jadi me­nginap. “Iya nggak jadi datang, ya sudah kita ngalah saja, nggak apa-apa. Kita tahu ke­sibukan bapak Jokowi kayak gi­mana,” ujar Bambang. [Harian Rakuat Merdeka]

Selasa, 18 September 2012

KEMEJA JOKOWI SEDANG DIMINATI KAUM LELAKI

Sejak berlangsungnya proses pemilihan gubernur (pilgub) wilayah DKI Jakarta, begitu banyak bermunculan wajah dan nama tokoh dengan segala kampanye yang disampaikan mereka. Salah satu dari sekian kandidat yang termasuk jajaran pemilihan pilgub DKI  adalah Jokowi.
Jokowi yang berpasangan dengan Basuki Djahaya Puernama atau yang akrab disapa Ahok tersebut senantiasa mengenakan kemeja motif kotak setiap kali ia turun berkampanye di tengah masyarakat. Selain itu, kemeja tersebut juga mereka jual kepada masyarakat yang keuntungannya dibuat untuk dana kampanye.

Rupanya, ide tersebut menjadikan satu tren baru di pertengahan 2012 bagi kawula muda di Jakarta dalam berbusana. Dan, kini busana tersebut turut menghipnotis anak muda di Medan sebagai kiblat busana yang mereka kenakan.

“Hampir semua pelanggan kami anak-anak kuliah, setiap berkunjung kemari yang dicari oleh mereka kemeja Jokowi,” ungkap Yuyun merupakan sales promotion girl di butik Mansquare Sun Plaza Medan.

Ia mengatakan, beda model kemeja Jokowi dengan kemeja pada umumnya terlihat dari motif kotak serta permainan warna yang cerah di bajunya. Selain itu, sambungnya, untuk panjang kemeja juga mengalami perubahan yang semula sampai sepaha sekarang menjadi lebih pendek hingga sepinggang.

Selanjutnya yuyun  menambahkan,  kemeja model slim fit ini diberi aksen kantong agar sisi fashion-nya lebih terlihat.

“Kalau aksen kantong dan model nge-pas badan untuk kemejanya sudah tren sejak tiga tahun lalu,” ungkap Yuyun.

Ia menjabarkan beragam jenis kemeja asal Hongkong dan Korea itu. Di antaranya untuk lengan pendek dihadirkan kemeja kotak berbahan dasar katun dengan penambahan list merah kombinasi putih. Kemeja berwarna biru-putih ini tampil casual lewat penggunaan warna yang cerah.

Selanjutnya ditawarkan juga kemeja hijau lumut yang dipadu bersama hitam dan putih. Kemeja ini memiliki kantong dan kerah dengan bahan yang berbeda dari kemejanya yakni baldu.

“Hampir semua kemeja yang ada di tempat kami terbuat dari katun, tapi di bagian kantong dan lengannya saja yang beda,” jelas Yuyun.

Kemudian masih dari bahan senada yaitu katun. Ditampilkan juga kemeja biru paduan hijau dengan campuran kaos yang digunakan untuk  kantongnya. Selain motif kotak khas Jokowi, dijual juga kemeja motif garis dan polos.   Motif garis tersebut hadir dalam balutan warna ungu untuk kemeja dan biru di bagian kerahnya yang ber-scrub.

Selanjutnya ada juga kemeja tanpa kantong yang dijual oleh butik yang menawarkan lebih banyak pakaian anak muda ini. Seperti kemeja campuran katun dengan rajut yang tampil manis lewat  kombinasi bahan jeans di lengan dan kerah model Shanghai.

Sedangkan jika ingin memilih kemeja lengan panjang, dijual juga kemeja katun kilat berwarna hijau lumut tanpa corak. Namun busana tersebut tetap fashionable jika digunakan lewat penggunaan resleting disisi depan yang menutupi kancing utamanya dan sedikit bahan kulit di bahu.”Jadi kalau memakai kemeja ini seperti memakai jaket atau blazer,” sebutnya.

Bagi yang hendak ke pesta, kemeja biru gradasi putih tanpa penambahan kantong dapat dijadikan bahan referensi. Apalagi dengan menggunakan katun yang bahannya lumayan lembut sehingga jatuhnya bagus jika dikenakan dan semakin menambah kesan elegan bagi si pemakai.

Menurut Yuyun, kemeja yang dikenakan untuk pesta  berkonsep formal alangkah baiknya jenis katun yang lembut jika dipegang sehingga ‘jatuhnya’ bagus.

Sebaliknya, jika acaranya lebih casual atau sekadar untuk hang out, konsumen lebih baik memilih katun dengan jenis yang tegang dan jatuhnya kaku ketika dipakai. Yuyun menuturkan pula bahwa kemeja yang terbuat dari jeans tidak kalah diminati saat ini.

Umumnya, bahan jeans tersebut lebih dominan berwarna biru dengan tetap memiliki kantong di depan serta motif bola-bola kecil putih. Kemudian di bagian belakang juga menggunakan  corak garis.

Terakhir  Yuyun menjelaskan, kemeja katun biasa dengan motif serta warna mencolok khas Jokowi lebih banyak dicari oleh mahasiswa untuk mereka kenakan saat kuliah atau sekadar jalan bersama temannya. Kemeja tersebut sering mereka pasangkan dengan bawahan jeans.

Sedangkan bagi para pekerja kantor lebih menyukai kemeja katun kilat untuk dikombinasikan bersama celana berbahan katun silk yang lembut.

2.000 Kemeja Kotak & 30 Ribu Kaos Dipesan Timses Jokowi


 
BANDUNG - Kemeja bermotif kotak-kotak ala Jokowi-Ahok yang akan digunakan pada pilgub putaran kedua nanti, ternyata diproduksi di Kota Bandung, Jawa Barat.

Tim sukses Jokowi-Ahok sudah memesan 2.000 kemeja pada sebuah pabrik konveksi di Kota Bandung. Pabrik konveksi yang dimaksud berada di Cibeunying Permai.

Pemilik konveksi, Wawan Gunawan, mengatakan, beberapa waktu lalu tim sukses Jokowi-Ahok memesan 2.000 kemeja lengan panjang. Selain 2.000 potong kemeja kotak-kotak, tim sukses Jokowi-Ahok juga memesan 30 ribu kaos berkerah motif kotak-kotak.

Pria yang sudah menggeluti bisnis konveksi selama 10 tahun itu, Rabu (18/7/2012), mengaku, baru kali ini menerima pesanan langsung dari calon gubernur. Umumnya, perusahaannya diminta membuat kaos untuk para pendukung calon.

Pada pilgub putaran pertama, konveksi milik Wawan juga kebanjiran pesanan kaos dari tim suskes Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini. Tim sukses pasangan itu memesan kaos hingga ratusan ribu potong.