Selasa, 28 Agustus 2012

5 Cerita Lucu dan Aneh Tentang Jokowi


5 Cerita Lucu dan Aneh Tentang Jokowi - Sebelum menjabat sebagai walikota Solo dan melenggang ke putaran kedua Pilgub DKI versi quick count, (51) Joko Widodo bukan siapa-siapa. Ia adalah sosok apa adanya. Berikut kisah lucu pengusaha mebel sarjana kehutanan UGM yang mungkin agak aneh dilakukan seorang pejabat
.
Hormat Grak!
Pada periode pertama (2005-2010) sebagai walikota Solo, Jokowi dilantik pada hari Jumat. Sabtu-Minggu libur. Senin pertama, Jokowi jadi inspektur upacara. Semua proses lancar kecuali urusan hormat-menghormat. Saat komandan memerintahkan hormat, Jokowi hormat.
Jokowi
terus menghormat, lupa bahwa perintah komandan upacara sangat tergantung seberapa lama irup menghormat. "Kok nggak turun-turun tangan," pikir Jokowi kala itu.

Beberapa peserta mulai tersenyum. Staf memberi kode agar Jokowi menurunkan tangan. Jokowi lantas menurunkan tangan dan komandan upacara pun meneriakkan, "Tegak Grak!" Penghormatan itu terjadi lebih dari satu menit, di luar batas kepantasan dalam upacara apapun.



Terjaring Razia
Meski mempunyai ajudan, Jokowi kadang enggan memakai protokoler. Suatu waktu ia bersepeda motor keliling kota. Di tengah jalan terlihat kerumunan orang. Saat melintas, Jokowi dihentikan polisi. Laiknya pengendara biasa, Jokowi menghentikan motornya dan mengeluarkan
surat-surat kendaraan dan KTP.
Polisi itu kemudian memeriksa. Ia baru tahu kalau pengendara motor tersebut adalah Jokowi setelah mengecek surat-surat kendaraan dan KTP. Karena saking banyaknya yang harus diperiksa atau memang tampang Jokowi memang tidak seperti walikota, Pak Polisi?



Manjat Pagar

Acara Pemkot kadang sampai malam. Pernah saat Jokowi pulang terlalu larut, pintu gerbang rumah dinas walikota, Loji Gandrung, tertutup rapat. Penjaga tak membukakan pintu meski dibel beberapa kali. Bukannya jengkel, Jokowi malah masuk ke rumah dinas dengan cara
meloncat pagar.
Aksi panjat pagar juga dilakukan saat Jokowi datang ke acara live Opera Van Java di Stadion R Maladi Solo. Jokowi tidak bisa masuk karena masyarakat berjubel. Ajudan ingin menyingkap kerumunan massa, tapi Jokowi melarang. Sang walikota pecinta musik metal itu memanjat
pagar yang sepi penonton untuk bisa masuk stadion.



Paranormal?
Ketika menghadiri acara di sebuah kampung, staf menelepon ke Jokowi dan bilang bahwa di rumah dinas ada beberapa orang. "Cepat, Pak. Mereka sekarang ada di garasi," kata staf itu. "Katanya ada yang kesurupan," imbuh sang staf. Jokowi geleng-geleng kepala. "Masak
walikota disuruh ngurusi orang kesurupan," pikirnya.
Jokowi mempercepat acaranya, kemudian pulang. Di rumah dinas, beberapa orang terlihat was-was. Jokowi was-was juga tapi berusaha tenang. Dia masuk ke rumah dinas dan mengambil es dari kulkas. Dia meminta ajudan mengompres anak yang kesurupan dengan es. Karena hasilnya kurang mantap, Jokowi meminta beberapa orang mengangkat anak itu ke ruang
tamu. Diusapnya wajah anak itu dengan es. Ajaibnya, anak itu langsung bangun dan mengucap terima kasih.
"Tapi tolong, cerita ini jangan kedengaran banyak orang. Bisa-bisa rumah dinas saya penuh orang kesurupan," kata Jokowi enteng.


Jadi Dukun
Seorang perempuan membawa anak datang ke kantor Jokowi di Balaikota Solo. Perempuan itu mengaku ingin bertemu dengan sang walikota. Ketika dikabari staf, Jokowi pun keluar. "Anak saya sakit, Pak. Panas. Nyebut-nyebut nama Pak Jokowi. Tolong disembuhkan," kata Jokowi
menirukan ucapan sang perempuan.
23 Tahun menjadi pengusaha mebel dan menjadi walikota, tentu bukan bekal untuk bisa menyembuhkan 'penyakit' anak tersebut. Tapi tak hilang akal. Dia masuk ke ruangan dan kembali sambil mengusap kepala anak itu. "Sudah, sembuh!" Besoknya Jokowi meminta ajudan mengecek nasib anak itu dan hebatnya, anak tersebut sembuh. "Sakti juga saya. Padahal nggak saya apa-apakan," kata Jokowi



Senin, 27 Agustus 2012

SUFI DARI GANG ARAB DAN PENDEKAR SAWAH RABUNG




Pemanis Kehidupan





Buldog Keadilan



Baldatun Toyyibatun Warobun Ghofur



Pembalap yang Hobinya Makan Tapi Penyantun Terhadap Orang Kecil



Rio Sarwono, Nasi Liwet Hingga Gelar KRA

KEPEDULIAN pria satu ini terhadap kuliner tradisional, terutama dari Solo membuatnya mendapat penghargaan berupa gelar KRA dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Pihak Keraton telah mewisuda pria kelahiran 15 Februari 1958 ini pada Rabu kemarin.
Dia adalah Rio Sarwono, pemilik Warung Solo di bilangan Jeruk Purut dan Resto Solo di Bogor. Kedua tempat makan itu menyajikan makanan khas Solo seperti Nasi Liwet. Berangkat dari kesukaannya makan Nasi Liwet itulah membuat ayah tiga anak ini membuka tempat makan.

Padahal suami dari ketua komunitas Titanium Jakarta ini tidak sepenuhnya tinggal di Solo. Masa kecil Rio hingga kelas dua sekolah dasar dihabiskan di Semarang. Selanjutnya anak ketiga dari lima bersaudara ini pindah ke Jakarta. Meski begitu, saat liburan tiba ia selalu pergi ke Solo karena tempat yang dialiri sungai Bengawan Solo itu sudah melekat di hati serta pikirannya.

Rio Sarwono saat menerima penghargaan dari KPGH Puger Keraton Surakarta Hadinigrat/ NopiRio Sarwono saat menerima penghargaan dari KPGH Puger Keraton Surakarta Hadinigrat/ NopiSalah satunya, ketika ia masih duduk dikelas dua sekolah dasar. Rio kerap mengantar sang Nenek berdagang batik di pasar Klewer. Di pasar banyak pedagang makanan pula. Setiap pedagang makanan lewat, Rio selalu memegang dan memakannya. Setelah kenyang iapun tertidur dihamparan kain batik.

Saat mau pulang Rio baru dibangunkan Nenek Yoso. Namun, sebelum menuju rumah, ia terlebih dahulu minum es. Kesukaan makan Rio beranjak sampai dewasa. Tak heran ketika liburan di Solo dirinya kerap makan Nasi Liwet.

"Pada waktu buka usaha, intinya sesuatu yang kita senangi. Berhubung saya senang Nasi Liwet, saya jual Nasi Liwet," ujarnya kepada TNOL di Solo saat menerima penghargaan belum lama ini.
Bagi Rio membuka tempat makanan khas Solo bisa mengobati rasa kangen terhadap kampung halaman. Selain itu, ingin memperkenalkan Solo baik dari sisi makanan
maupun budayanya kepada masyarakat.
Tak heran, demi menghadirkan nuasa Solo, Rio pun memperkerjakan sekitar 75 persen pelayan dan koki langsung dari sana. Menurutnya, mencari pelayan dan koki dari Solo sangat sulit karena SDM terbatas. Kalaupun ada, mereka lebih menyukai bekerja di Bali.

Rio Sarwono saat diwisuda bersama penerima penghargaan yang lain/ NopiRio Sarwono saat diwisuda bersama penerima penghargaan yang lain/ NopiNamun, ia tak patah arang dan berhasil mendapatkan koki dan pelayan dari Solo yang mau bekerja di Jakarta. Tak heran Warung Solo miliknya berkembang. Terbukti di sana terdapat Balai Sarwono. Kemudian ada show room batik yang menjual batik serta tempat belajar membatik. Kebanyakan yang suka belajar membatik dari kalangan asing dan kaum Ibu.

Tak hanya itu, di Warung Solo miliknya pengunjung juga dapat melihat-lihat barang antik. Jika mereka berminat, bisa langsung membeli. Konsumen Warung Solo di Jakarta 90 persen dari kalangan perkantoran. Sementara Resto Solo di Bogor lebih banyak dari kalangan keluarga.
Sebelum memiliki tempat makan, Rio juga sudah  memiliki Rumah Saya yang bergaya Solo. Belum lagi Rio juga menjalankan Pendopo Kemang milik Tommy Soeharto. Berkat itulah, salah satu kerabat Keraton Ibu Kusumo ‘melirik’ kepeduliannya terhadap Solo. Tempat makan itupun menghantarkan Rio mendapatkan
penghargaan.
Ketika diwisuda Rio didampingi sang istri Siska Sarwono. Usai wisuda, keesokan hari Rio menghadiri Upacara Adat Tingalandalem Jumenengan ke enam ISKS Paku Buwono XIII. Rio ditemani istri dan anak ketiganya Triska Sarwono. Mengenakan pakaian adat Jawa, Rio sangat hikmat mengikuti Upacara Adat tersebut. Usai mengikuti Upacara Rio bertemu dengan Paku Buwono XIII.

Atas penghargaan yang diberikan, Rio mengucapkan terimakasih.  "Ada yang menghargai seperti ini saya berterimakasih," imbuh anak dari pasangan W. Sarwono dan Tati Sarwono ini. Nantinya gelar KRA yang Rio dapatkan tidak dicantumkan di depan namanya.

Padahal sebagai salah satu penerima gelar, Rio berhak menggunakan gelar tersebut. "Tidak dicantumkan, ini untuk anak cucu saja," ucapnya.

Menjadi Tentara
Rio Sarwono bersama anak dan istri Siska Sarwono/ NopiRio Sarwono bersama anak dan istri Siska Sarwono/ NopiSiapa yang mengira kesuksesan Rio Sarwono dalam menjalankan usaha tempat makan, terselip sebuah cita-cita menjadi seorang tentara. Memang darah tentara mengalir di tubuhnya. Maklum, sang ayah merupakan salah satu anggota TNI. Sebagai anak ia pun ingin seperti sang ayah.

Berhubung menjadi tentara harus jebolan IPA membuat Rio urung lantaran ia masuk jurusan IPS. Masuknya Rio dijurusan itu membuatnya menempuh pendidikan Administrasi Negara di FISIP UI tahun 1978. Cita-cita Rio beralih menjadi Bupati atau Lurah.

"Saya berharap masuk Administrasi Negara bisa menjadi Bupati atau Lurah suatu saat nanti. Suratan tangan akhirnya kerja di swasta," imbuh Rio seraya tersenyum.
Semasa kuliah Rio merupakan pereli nasional. Peringkat lima besar nasional selalu berada di gengamannya. Tak hanya itu, Rio juga sering mengikuti balap tingkat internasional.

Bahkan, dirinya menjadi satu-satunya pembalap Indonesia yang meraih piala saat kejuaraan dunia berlangsung di Medan tahun 1997. Sebagai pembalap Rio sering mengalami kecelakaan. Namun, tak membuatnya trauma, justru memotivasi dirinya untuk lebih baik lagi. Tercatat Rio pernah mengalami kecelakaan pada tahun 1991.

Ia mengalami patah tulang sehingga menyebabkan dirinya tak bisa berjalan selama satu bulan. Kecelakaan tidak membuatnya berhenti dari dunia balap. Pihak keluarga juga tidak khawatir, melainkan memahami apa yang Rio tekuni.
Saya kenal istri dari sekolah. Bisa dibilang kita Gita Cinta dari SMA. Jadi saya kenal dia sudah ikut-ikutan balap," tutur Rio.

Kompak bersama keluarga di depan menara keraton/ Nopi Kompak bersama keluarga di depan menara keraton/ Nopi Selain menjadi pembalap ketika kuliah, Rio juga menekuni EO rally. Setamat kuliah dirinya menjalani EO serta menekuni profesi kontraktor. Profesi ini bangkrut pada 1988 silam. Merasa kurang pintar lantaran usaha kontraktor bangkrut, Rio memutuskan melanjutkan pendidikan S2 di Prasetya Mulya mengambil jurusan bisnis.

Darisana ia mendapat tawaran disebuah perusahaan. Sambil bekerja di perusahaan Rio tetap menjalankan EO rally. Rio hanya bertahan beberapa tahun di perusahaan tersebut, tapi EO rally tetap berjalan. EO ini pernah berkerjasama dengan Yayasan Kemala Bhayangkari hingga tahun 1999.

Disela-sela menjalankan EO, Rio membuka restoran di  BRI Tower serta impor es cream dari Italia yang dipadu dalam sebuah restoran. Sayang terjadinya kerusuhan 1998 membuat restorannya harus tutup lantaran konsumen yang dominan orang-orang bule meninggalkan Indonesia.

Begitupula dengan impor es cream. Impor es cream berhenti karena kurs tahun 1998 mencapai Rp 15 ribu. "Terpaksa tutup," kenangnya.
Rio pun mendapat kepercayaan dari Tommy Soeharto dan Tinton Soeprapto menjalankan bisnis media. Berhubung Rio seorang pembalap, ia mengoperasikan sebuah majalah tentang otomotif.

Di sini ayah dari Yama, Ria dan Triska Sarwono belajar dari nol mulai dari distribusi sampai pemasangan iklan. Untuk mendukung kinerjanya, Rio mengambil S2 manajemen media di UI. Sayang majalah tidak bertahan lama. Meski begitu, ia tak trauma menangani media. Baginya media menarik dan memiliki tantangan.

Apalagi ia mempunyai filosofi, kita itu perlu kerja keras dan jujur. Soal rezeki dan soal apa saja sudah diatur Tuhan. Rio menganggap kegagalan-kegagalan yang pernah dialami sebagai pengalaman berharga.
"Yang penting kita usaha, jujur dan berdoa. Urusan uang sudah dari Tuhan yang menentukan," tandasnya.